Tuesday, July 10, 2012

BERMAIN DAN SENI TARI AUD


NAMA                                  :  VITRIA HANDAYANI
KELAS                                    :  II A PAUD
NIM                                       :  091610040
MATA KULIAH                   :  BERMAIN DAN SENI TARI AUD
DOSEN PENGAMPU        :  KUSMINDARI TRIWATI, S.Sn
 

Pada hari jumat tanggal 21 mei  2010 dihalaman depan Gedung kesenian Taman Budaya, saya menyaksikan sebuah pagelaran seni  REVITALISASI KESENIAN HAMPIR PUNAH. Dengan seringnya kita menyaksikan suatu kesenian maka kita akan tahu dari mana kesenian tersebut berasal dan secara tidak langsung kita akan melestarikan suatu kesenian tradisional yang sudah hampir punah tersebut. Saya sangat senang di kota Pontianak masih sering mengadakan pagelaran kesenian kebudayaan yang ada di daerah Kalimantan Barat, karena dengan begitu kebudayaan yang ada di Kalimantan Barat tidak akan punah dan akan menambah devisit daerah. Pada hari itu yang ditampilkan adalah TARI PEDANG- MUSIK SAPE’- TATTOO.
TARI PEDANG DAYAK MUALANG
Yang menarikan Pedang Dayak Mualang adalah Tumenggung Adat Dayak Mualang Dusun Merbang yang Bernama Edmundus Linggie yang berumur 68 tahun.
Tari Pedang pada masyarakat Dayak Mualang dahulu kala dikenal sebagai ritual Pemujaan Pedang sebelum seseorang akan pergi mengayao. Disini ceritanya Kayao atau memenggal kepala adalah suatu syarat bagi anak laki- laki yang beranjak dewasa apabila dia akan berumah tangga. Pada ritual ini diawali dengan suatu upacara adat yang dipimpin oleh ketua adat dengan memanggil roh- roh leluhur untuk memohon petunjuk dan memberikan kemudahan bagi sianak laki- laki yang akan pergi mengayao. Roh- roh  leluhur yang dipanggil tersebut adalah:
1.    Tuak Minai
2.    Tuak Klieng
3.    Tuak Labong
4.    Tuak Hijau
5.    Tuak Pungak
6.    Tuak Lajah
Di sini Tuak dalam bahasa Dayak Mualang artinya Panglima. Dengan memanggil roh- roh leluhur diharapkan dapat memberikan petunjuk yang baik yaitu melalui mimpi atau pertanda- pertanda lain seprti suara- suara burung( sengalang ). Setelah memanggil roh_ roh leluhur, kepala adat selanjutnya menaburkan beras kuning dan mulailah si anak laki- laki yang akan pergi mengayao tersebut melakukan pemujaan terhadap pedang.
Pertunjukan tarian diawali dengan menyembah pedang dan sianak laki- laki tersebut seolah- seolah dapat berkomunikasi dengan peangnya tersebut. Kemudian ia mengelilingi pedang sebanyak tiga kali dan selanjutnya mengambil pedang kemudian diikatkan dipinggang. Pada saat mengikat pedang ini sianak laki- laki melakukan gerakan yang oleh masyarakat setempat disebut dengan langka pecah empat. Setelah pedang terikat gerakan semakin cepat dan gerakan semacam ini disebut  langka pecah dua belas. Gerakan kemudian diakhiri dengan mencabut pedang dan meletakkannya diatas bahu sambil memutarkannya kekiri dan kekanan. Gerakan pemujaan pedang ini diiringi dengan alat music yaitu dua buah Gong atau Ketawa dan dua buah Gendang atau Entibung. Mengenai pakaian yang digunakan oleh sianak laki- laki adalah pakaian adat terdiri dari topi atau ikat kepala, baju maram, cawat sirat dan gelang giring. Setelah semua rangkaian ritual pemujaan pedang ini selesai, keesokan harinya sianak laki- laki ini harus segera berangkat, maka prosesi ritual harus diulang dari awal.
Saat ini, setelah kayao tidak lagi menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Dayak Mualang, pemujaan pedang tetap dilestarikan yaitu dalam bentuk seni tari yang dikenal dengan Tari Pedang. Gerakan dari awal hingga akhir tidak mengalami perubahan, hanya yang membedakan tarian ini tidak diawali dengan upacara adat memanggil roh- roh leluhur. Apabila ada yang melakukan tarian Pedang dimulai dengan upacara adat, maka yang bersangkutan harus mengerjakan kayao. Jika tidak, roh- roh leluhur yang dipanggil akan marah dan diyakini dapat menimbulkan malapetaka. Yang disayangkan dalam tarian ini adalah yang menari kenapa bukan anak muda, yang seharusnya meneruskan kebudayaan seni tari tersebut.

MUSIK SAPE’
Sape atau dibaca sape’ atau yang biasa disebut dengan sampe atau dibaca sampe’ adalah salah satu jenis alat music tradisional yang dimiliki oleh masyarakat asli Dayak Pulau Kalimantan. Dayak Kayaan dan Kenyah yang sering disebut- sebut sebagai kelompok masyarakat pemilik awal dari jenis alat music tradisional sape’ ini. Kedua kelompok masyarakat ini, termasuk juga masyarakat punan, secara linguistic merupakan bagian dari sub kelompok Masyarakat Dayak yang lebih besar, yaitu masyarakat sub Kayaan.
Ada dua jenis sape’ yang dikenal dimasyarakat, terutama masyarakat Dayak Kapuas Hulu, yaitu Sape’ Kayaan dan Sape’ kenyah. Sape’ Kayaan umumnya memiliki ukuran bentuk yang lebih pendek dibanding dengan jenis sape’ Kenyah. Selain lebih pendek, bentuk badan sape’ Kayaan juga cenderung lebih lebar dibanding dengan dengan bentuk badan sape’ Kenyah dengan penggunaan jumlah dan jenis tali senar yang juga berbeda.
Jenis- jenis tali dawai pada jaman dahulu sebelum mereka mengenal tali nilon, string atau tali kawat rem motor, pada jenis sape’ Kanyaan misalnya mereka telah menggunakan dan mengkreasikan serat nenas atau bahkan jenis rotan tertentu untuk digunakan sebagai tali dawai pada alat music sape’. Pada jenis sape’ kayaan, jumlah tali dawai yang selama ini digunakan berjumlah dua senar. Sementara pada jenis sape’ kenyah, jumlahnya bervariasi. Sape’ sebenarnya dapat dimainkan sendiri, namun secara tradisi, alat music sape’ ini lebih banyak dimainkan secara bersama- sama dengan jenis alat music tradisional lainnya untuk mengiringi sebuah lagu dan tarian- tarian ritual. Apabila dimainkan sendirian, konon suara dari dawai sape’ ini akan membuat jiwa seperti berada diawang- awing ( alam ketinggian ). Bunyi setiap dentingnya yang tinggi seakan dapat mewakili suasana alam ketinggian yang sunyi sepi. Sementara jika dimainkan bersama- sama akan menambah unsure magisnya dari ritme setiap langkah- langkah tarian ritual yang dilakukan.
Pertunjukan musik sape’ pada malam itu penampilan yang pertama dimainkan oleh sekelompok ibu- ibu suku dayak dan penampilan yang kedua dimainkan oleh :
1.    Hironimus Uwang ( pemain dan pembuat sape’ ) di Desa Padua Mendalam.
2.    Gunung ( Tokoh tua, pemain dan pembuat sape’ ) di Desa Datah Dian, Pagung.
3.    Sageng, Pemain sape’ di Desa Datah Dian, Pagung.
4.    Lucia ( Ketua Sanggar Kayan ) dari Putussibau

MAKNA DAN TRADISI TATTO
Bagi masyarakat dayak, fungsi dan makna tatto secara tradisional secara umum adalah sebagai fungsi religi dan tradisi. Pada masyarakat Iban, khususnya masyarakat Iban Embaloh Hulu, istilah tatto ternyata lebih dikenal pada masyarakat Kayaan dan Kenyah. Para pengukir atau penato atau para pembuat tattonya sendiri kemudian juga dikenal sebagai pantang bukan penedak. Nama pantang ini erat kaitannya dengan profesi, cara dan nama alat yang digunakan dalam mengukir atau membuat tatto, yaitu sebuah kayu kecil sejenis pelaik yang pada bagian ujungnya dibelah untuk menjepit beberapa jarum atau duri yang berasal dari pohon tertentu dan berfungsi sebagai penusu kulit ari. Bahan pewarna alami yang digunakan dalam proses pengukiran ini tentunya hanya satu jenis warna, yaitu warna hitam yang diperoleh dari jelaga asap lampu pelita dengan bahan bakar tanah atau bahan bakar kayu alam yang dikumpulkan dengan menggunakan media jenis daun tertentu yang agak lebar.
Dalam masyarakat Iban, makna tatto berhubungan dengan simbolisasi pengalaman kemampuan seseorang dalam komunitasnya. Secara umum terdapat empat bentuk motif dari tatto yang biasa digunakan oleh masyarakat Iban saat ini, yaitu : motif bunga terung, motif buah andu, motif ketam dan motif kelingai.  

KESIMPULAN
Kekayaan dan keragaman seni budaya yang memiliki nilai, norma, dan fungsi, baik bagi masyarakat pendukungnya maupun masyarakat secara umum perlu terus dilestarikan agar tidak mengalami kepunahan, pendangkalan isi maupun pengakuan dari pihak- pihak lain yang kurang bertanggung jawab. Maksud dan pelestarian seni budaya adalah untuk membuat nilai- nilai budaya tersebut tetap hidup dan terpakai dimasa kini dan yang akan datang.




No comments:

Post a Comment