Tuesday, July 10, 2012

Modifikasi Perilaku

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan karunia, taufiq dan hidayah-Nya sehingga tugas membuat makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pengampu Ibu Ratna Sartika A, S.Psi, M.Si.PSi  dan rekan-rekan mahasiswa di Universitas Muhamadiyah  Pontianak Semester 6 jurusan PG-PAUD yang telah ikut berpartisipasi meluangkan waktu dan pikirannya.
Makalah ini disusun penulis sebagai tugas individu mata kuliah  Modifikasi Tingkah Laku. Jika dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, maka penulis mohon masukan dan saran yang membangun dari pembaca agar dalam pembuatan makalah ke depannya menjadi lebih baik.


Pontianak,   Juli  2012






BAB I
PENDAHULUAN

1.1.     LATAR BELAKANG MASALAH
Manusia dilahirkan dengan segenap potensi dan seperangkat kemampuan dari Tuhan untuk dimanfaatkan  dalam pemenuhan kebutuhan. Perilaku merupakan salah satu perantara manusia untuk mencapai tujuan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Perilaku dalam psikologi, dipandang sebagai sesuatu yang dapat diubah  dan dapat dipelajari. Kelompok behaviorisme menyatakan bahwa perilaku yang dipelajari (learned) dapat pula dihilangkan (unlearned). Perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya. Dilihat dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.
Perilaku manusia adalah suatu fungsi dan interaksi antara individu dengan lingkungannya. Individu membawa kedalam tatanan organisasi, kemampuan, kepercayaan, pribadi, penghargaan kebutuhan dan pengalaman masa lalunya.
Bagi individu yang mempunyai karaktristik yang berbeda satu sama lain biasanya terdapat satu ketentuan-ketentuan atau pola perilaku yang menurut khalayak merupakan perilaku baku yang harus diikuti oleh semua individu yang tergabung dalam satu komunitas yang ditetapakan dalam peraturan . Jikalau karakteristik orarganisasi maka akan terwujud perilaku individu dalam organisasi. Oleh karena itu penulis mencoba untuk membahas  tentang perubahan perilaku seorang individu, dalam hal ini penulis membahas tentang perubahan perilaku dengan teknik “Token Ekonomi”.

 BAB II

LANDASAN TEORI


4.        2.1. Pengertian Modifikasi Perilaku

Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai:
(1)  upaya, proses, atau tindakan untuk mengubah perilaku,
 (2) aplikasi prinsip-prinsip belajar yg teruji secara sistematis untuk mengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif,
(3) penggunaan secara empiris teknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku melalui penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman, atau
(4) usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia.
Dalam pandangan kaum behavioristik aliran klasik, modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku tertentu /mengontrol lingkungan perilaku tersebut. Jika teknik kondisioning diterapkan secara ketat, dgn stimulus, respon dan akibat konsekuensi diharapkan terbentuk perilaku lahiriah yg diharapkan. Dalam pandangan aliran operan, modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat / pengukuh diberikan berupa reward / punishment. Sedangkan dalam panangan aliran behavior analist, modifikasi perilaku merupakan penerapan dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium. Proses, emosi, problema, prosedur, semua diukur. Pengubahan perilaku dilaksanakan dengan rancangan eksperimen dibuat dengan cermat. Perilaku dihitung secara cacah untuk mendaparkan data dasar. Variabel bebas dimanipulasi, metode statistik digunakan untuk melihat perubahan perilaku, pengulangan jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.
        Sedangkan dalam pandangan para ahli, menurut Eysenk modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi manusia dengan cara yg menguntungkan berdasarkan teori yg modern dalam prinsip psikologi belajar. Menurut Wolpe, yaitu penerapan prinsip-prinsip belajar yg telah teruji secara eksperimental untuk mengubah perilaku yg tidak adaptif, dgn melemahkan atau menghilangkannya dan perilaku adaptif ditimbulkan atau dikukuhkan. Sedangkan menurut Hana Panggabean, modifikasi perilaku adalah penerapan dari teori Skinner, sering juga disebut sebagai behavior therapy. Merupakan penerapan dari shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif, dan extinction.
        Modifikasi perilaku sebagai salah satu metode dalam memberikan bantuan pada klien, menerapkan metode yang berbeda. Martin dan Pear (2003) menyatakan modifikasi perilaku tidak hanya sekedar terapi biasa yang mengandalkan pembicaraan terapist kepada kliennya. Bedanya dengan psikoterapi, psikolog yang melakukan modifikasi perilaku:
1. terlibat secara aktif dalam mengkonstruksi ulang lingkungan kehidupan sehari-hari klien dalam rangka memperkuat perilaku yang tepat.
2. Seringkali memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien untuk memfasilitasi perubahan perilaku ini.
3. metode dan tahap demi tahapnya dapat dibuat dengan jelas, sehinga orang lain dapat menggunakan dan menjalankan program yang dibuat orang lain.
4. dapat dilakukan sendiri secara perseorangan atau paling tidak dapat dilakukan oleh orang tua, guru, mentor untuk membantu perubahan perilaku anak-anak atau bawahannya.
5. Selalu berlandaskan pada prinsip belajar umum dan operant, khususnya conditioning dari Pavlov.
6. menekankan bahwa pendekatan tertentu cocok untuk perubahan perilaku tertentu pula.
7. melibatkan semua pihak, klien, administrator, konsultan, dll.



5.        2.2.Pengertian Asesmen Modifikasi Tingkah Laku

1.     Pengertian Asesmen Tingkah Laku
                Asesmen tingkah laku merupakan alat dalam modifikasi tingkah laku yang digunakan untuk mengukur tingkah laku individu apakah tingkah laku yang dimunculkan itu meningkat atau berkurang.
                Secara khusus Martin dan Pear (2003) mengemukakan bahwa asesmen tingkah laku meliputi proses pengumpulan dan analisis terhadap data atau informasi untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:
·          Mengidentifikasikan tingkah laku target, yaitu tingkah laku yang menjadi sasaran.
·          Mengidentifikasikan penyebab-penyebab munculnya tingkah laku tertentu
·          Menentukan metode intervensi yang dilzakukan
·          Mengevaluasi hasil treatmen
Komponen utama dalam asesmen yaitu;
·          Parameter/ukuran yang digunakan untuk membandingkn fakta/data
·          Fakta/data yang diukur
·          Pengukur
·          Mekanisme/ prosedur pengukuran
Beberapa prosedur yang biasa dilakukan untuk pengumpulan data, dapat dikelompokkan kedalam tiga prosedur.
Prosedur pertama adalah penilaian tidak langsung. Penilaian tidak langsung dapat dilakukan dengan cara mewawancarai orang-orang terdekat dengan klien, misalnya orang tua, saudara-saudara klien, teman-teman, guru, dan orang-orang yang banyak berhubungan dengannya. Sumber informasi lain yang dapat diminta datanya adalah konselor profesional dari sekolah. Cara lain yang masuk kategori asesmen yang tidak langsung ini adalah kuesioner yang didesain khusus seperti misalnya life history, self report masalah cheklist, dan role play.
Prosedur kedua adalah penilaian langsung pada klien, dilakukan dengan cara melakukan observasi terhadap sampel tingkah laku yang diperlihatkan klien. Prosedur penilaian langsung ini memberikan data yang akurat karena ditampilkan langsung oleh klien, tetapi tentu saja kelemahannya adalah dari segi waktu yang harus disediakan lebih banyak. Dalam prosedur penilaian langsung ini beberapa hal yang menjadi sasaran untuk dinilai, adalah frekuensi dimunculkannya tingkah laku tertentu, bagaimana pula dengan durasi munculnya tingkah laku tersebut, intensitas, dan kualitas.
Prosedur ketiga, penilaian eksperimen dilakukan dengan cara melakukan kontrol dengan situasi yang ada pada klien (antecedent) untuk kemudian diamati tingkah laku apa yang akan dimunculkan (consequence). Prosedur ini disebut juga dengan analisis fungsional. Hal-hal yang direkam dalam prosedur pengambilan data ini adalah:
·          Topography; respon tertentu terhadap satu stimulus
·          Frekuensi (seberapa sering tingkah laku itu ditunjukkan atau dilakukan klien)
Frekuensi menunjukkan berapa kali suatu peristiwa terjadi pada periode waktu tertentu, misalnya berapa kali seorang anak autis melakukan kontak mata kepada orang lain (misalnya teman sekelasnya) setiap lima menit selama belajar dikelas.
Frekuensi cocok digunakan jika pengamatan tingkah laku dilaksanakan dengan periode waktu yang sama dari sesi ke sesi, misalnya siswa diminta untuk membaca 20 kosa kata selama 10 menit setiap hari, maka jumlah kosa kata yang dibaca dengan benar selama 10 menit tersebut dapat menjadi variabel terikat. Pada contoh ini baik jumlah kosa kata dan lamanya waktu untuk membaca 20 kosa kata tersebut konstan yaitu 10 menit.
Frekuensi juga dapat digunakan untuk mengukur variabel terikat dimana tingkah laku yang diukur dapat terjadi dalam jumlah tak terbatas jika periode pengukurannya telah ditetapkan secara konstan. Misalnya peneliti menghitung jumlah kosa kata verbal yang dikeluarkan oleh anak tunagrahita selama kegiatan makan bersama dalam periode waktu 15 menit.
·          Intensitas; pengukuran intensitas atau kekuatan suatu respon
·          Stimulus kontrol; variabel tingkah laku yang mendasari dan mengontrol munculnya suatu tingkah laku, sehingga digunakan untuk menentukan tingkah laku tertentu yang terjadi pada suatu situasi tapi tidak pada situasi lain.
·          Latency: waktu antara stimulus yang diberikan dengan respon yang dilakukan
Quality: kecendrungan apakah tingkah laku tersebut mempunyai nilai fungsional atau tidak.

2.3. Teori Token Ekonomi
Pengertian token ekonomi
Token ekonomi adalah sebuah program dimana sekelompok individu bisa mendapatkan token untuk beberapa tingkah  laku yang diharapkan muncul, dan token yang dihasilkan bisa ditukar dengan back up reinforcer. Token ekonomi di buat berdasarkan  prinsip conditioning reinforcement. Conditioning reinforcement adalah stimulus yang tdak secara langsung menguatkan tingkah laku, namun stimulus tersebut bisa menjadi penguat jika dipasangkan dengan reinforcer lain.
Dalam behaviour Modification: What it is and how to do it oleh Garry martin dan Joseph Pear (1992) pada intinya token ekonomi dapat digunakan  sebagai penguat yang dapat bertahan lama. , ada bebrapa keuntungan
1.        Karakteristik token ekonomi
Ada tiga karakteristik dasar yang dimiliki token ekonomi sebagai suatu program dalam modifikasi tingkah laku, yaitu :
a.        Tingkah laku yang akan diperkuat dipaparkan dengan jelas.
b.        Prosedur yang digunakan adalah dengan memberikan reinforcing stimuli (token) saat tingkah laku target muncul.
c.        Aturan yang ada direncanakan untuk mengatur pertukaran token untuk setiap objek atau peristiwa yang akan diperkuat.
2.        Langkah- langkah implementasi token ekonomi
a.        Menentukan tingkah laku target
Semakin reinforce individu kelompok yang akan dikenai token ekonomi, maka akan semakin mudah menstandardisasikan aturan-aturan yang berlaku dalam token ekonomi.
b.        Mencari garis basal
Yakni memperoleh data sebelum melakukan penanganan, biasanya melalui pengamatan selama dua minggu terhadap tingkah laku target. Sesudah program dimulai, kita bisa membandingkan data dengan data yang dieroleh saat menentukan garis basal, sehingga dapat menentukan efektivitas program.
c.        Memilih back up reinforcer
Perlu diperhatikan bagaimana karakteristik peserta program dan apa saja barang yang dibutuhkan. Barang yang menjadi pengukuh pendukung haruslah barang yang dapat digunakan atau consumable. Perlu diperhatikan pula tempat penyimpanan, dan dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan program.
d.        Memilih tipe token yang akan digunakan
Secara umum, tipe token haruslah menarik, ringan, mudah dipindahkan, tahan lama, mudah dipegang, dan tidak mudah di palsukan. Beberapa contoh yaitu stiker reinforce logam, koin, check-mark, poin, poker chip, stempel yang dicap di buku, tanda bintang, kartu, dll.
e.        Mengidentifikasi  sumber-sumber yang bisa membantu
Beberapa sumber yang bisa membantu adalah staf, relawan, mahasiswa, residen, orang yang akan dikenai token itu sendiri.
f.         Memilih lokasi yang tepat
Token dapat diberikan dimana saja, asal diberikan setelah tingkah laku taget muncul.
g.        Menyiapkan manual/pedoman token ekonomi pada klien dan staf.

3.        Prosedur spesifik dalam penerapan program token ekonomi
a.        Perlu diperhatikan bagaimana cara penyimpanan data , kertas data yang akan dipergunakan, siapa dan bagaimana data itu akan dicatat.
b.        Siapa yang akan memberikan pengukuh atau agen pengukuh (renforcing agent), dan utuk tingkah laku apa
c.        Menentukan jumlah token yang bisa didapat pada setiap tingkah laku. Pemberian token dapat mulai dikurangi bila tingkah laku target telah terbentuk.
d.        Menyusun  prosedur dan menentukanjumlah token untuk memperoleh back up reinforce. Pada awal program, frekuensi penyediaan penguku pendukung harus cukup tinggi, lalu berkurang secara bertahap.
e.        Berhati-hati terhadap kemungkinan munculnya hukuman.
f.         Memastikan bahwa tugas yang harus dilakukan staf sudah jelas, dan pemberian penguku pada staf.
g.        Membuat rencana untuk menghadapi kemungkinan masalah yang akan timbul
4.        Penerapan token ekonomi
·          Membantu murid yang cacat didalam ruang kelas
·          Menangani anak-anak dengan masalah antisosial
·          Treatment untuk pecandu reinfor
·          Menurunkan tingkat absent dan meningkatkan performa kerja
·          Mengurangi tingkah laku agresif tahanan
·          Mengelola tingkah laku anak dalam keluarga
5.        Keuntungan dan Kelemahan token ekonomi
Keuntungan token Ekonomi:
1.        Mereka dapat diberikan segera sesudah suatu perilaku yan diinginkan terjadi dan dipertukarkan di waktu mendatang dengan backup reinforcers. Dengan demikian mereka dapat dipakai untuk menjembatani penundaan yang sangat panjang antara respon target dengan back up reinforcers, yang sangat penting ketika situasinya tidak praktis/ mustahil untuk memberikan backup reinforcers sesudah perilaku.
2.        Token mempermudah untuk mengatur penguat-penguat yang konsisten dan efektif ketika menangani sekelompok individu.
Kelemahan Token ekonomi:
·          Kurangnya pembentukan motivasi renforce, karena token merupakan dorongan dari luar diri.
·          Dibutuhkan dana lebih banyak untuk penyediaan pengukuh pendukung/ back up reinforce
·          Adanya beberapahambatan dari orang yang memberikan dan menerima token.

Bentuk token ekonomi bermacam-macam, tidak harus berupa token tetapi dapat berupa stiker, tanda bintang dan tanda penghargaan, point atau item lainnya.











BAB III
METODOLOGI


A.         METODE YANG DIGUNAKAN: TOKEN EKONOMI
Metode yan digunakan dalam tulisan ini adalah token ekonomi, metode ini digunakan dikarenakan penulis ingin membuat sebuah program dimana individu bisa mendapatkan token untuk beberapa tingkah  laku yang diharapkan muncul, dalam hal ini obejct penelitian berusaha dirubah pola tidurnya dimana yang kesehariannya tidur ditemani orang tuanya akan diubah pola tidurnya supaya dapat tidur sendiri. Conditioning reinforcement adalah stimulus yang tdak secara langsung menguatkan tingkah laku, namun stimulus tersebut bisa menjadi penguat jika dipasangkan dengan reinforcer lain.

B.         SUBJEK/ IDENTITAS ANAK
1.        Nama                                      : Radit Atha Ramadhan
2.        Tempat/ttl                               : Pontianak/ 29 September 2007
3.        Jenis Kelamin                         : laki-laki
4.        Anak ke                  : Pertama dari 2 (dua) bersaudara
5.        Nama Ayah                            : Agus Hartanto, SE, M.Sc
6.        Pekerjaan Ayah      : PNS
7.        Nama Ibu                               : Vitria Handayani
8.        Pekerjaan Ibu                         : Rumah Tangga






C.         SETTING
Lokasi tempat tinggal anak di jalan Prof. M. Yamin gg. Sederhana no 34 Kota Baru Pontianak. Suasana di lingkungan tempat tinggal anak yang berupa model Rumah penduduk dengan tipe bentuk rumah yang berdekatan satu sama lain dan saling berhadapan satu sama lain. Jumlah rumah di dalam gang masih relatif sedikit dan belum terlalu padat. Lingkungan perumahan di lokasi penelitian yang tergolong biasa-biasa saja. Komunitas di lingkungan penelitian didominasi oleh anak-anak SMP dan SD sehingga lingkungan bergaul obyek penelitian memiliki kecenderungan dengan anak-anak yang umurnya di atas.

D.         PERALATAN YANG DIGUNAKAN
Peralatan yang digunakan pada token ekonomi yang penulis aplikasikan adalah dengan membuat kartu berbentuk bintang tersenyum, disini penulis membuat kartu bintang tersenyum dikarenakan anak senang dengan gambar yang lucu yang dapat menarik minat anak agar mau mengikuti treatment yang akan penulis lakukan. Sedangkan hadiah yang akan diberikan adalah sebuah sepeda, disini penulis memberikan sepeda di karenakan anak menginginkan sebuah sepeda.

E.         PROSEDUR PELAKSANAAN
2.        Base line
a.        Pengamatan hari ke1 anak masih tidur bersama eyang nya
b.        Pengamatan hari ke 2 anak masih juga tidur bersama eyangnya
c.        Pengamatan hari ke 3 walaupun eyang nya sudah meminta anak untuk tidur sendiri tetapi anak masih saja tidak mau untuk tidur sendiri
d.        Pengamatan hari ke 4 masih sama dengan hari-hari sebelumnya
e.        Pengamatan hari ke 5 juga masih sama si anak belum juga mau tidur sendiri
3.        Fase Treatment
a.        Hari ke 1 anak dijelas kan agar mau tidur sendiri, seperti, yang ada pada rekaman video
b.        Hari ke 2 anak mulai tertarik dengan kesepakatan yang telah penulis berikan, ternyata anak tersebut sudah mau berani untuk tidur sendiri, walaupun pada awalnya sebelum anak tertidur, anak masih minta ditemani tetapi sesudah anak tertidur penulis tidak menemani lagi dan paginya penulis memberikan tanda bintang tersebut, dan anak sangat senang sekali.
c.        Hari ke 3 masih sama dengan hari kedua sebelum tidur anak masih di temani dahulu sampai anak tertidur
d.        Hari ke 4 anak sudah mulai berani untuk masuk kamar sendiri walaupun anak meminta penulis untuk masih berada di luar apabila anak mau tidur di kamarnya sendiri
e.        Hari ke 5 juga masih sama dengan hari ke 4, tetapi penulis senang anak sedikit demi sedikit sudah mau untuk tidur sendiri, walaupun penulis masih harus menunggu di luar hingga anak tertidur.

4.        Fase pasca treatment
Hasil dari pengamatan perubahan tingkah laku yang menjadi target adalah menginginkan anak agar mau tidur sendiri, disini anak di biasakan tidur sendiri karena umur anak sudah menginjak 5 tahun. Dengan melakukan treatment sedikit demi sedikit anak mulai berubah. Sebelum treatment anak belum mau tidur sendiri.

5.        Fase evaluasi




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan teknik dan prosedur pengolahan data yang telah dikemukakan. Berikut akan dijelaskan analisis dari data hasil penelitian yang diperoleh.  Dengan metode token ekonomi ketika dalam situasi belajar atau intervensi selama waktu yang telah ditentukan, yaitu sebelum mendapatkan perlakuan token ekonomi atau baseline dan ketika mendapatkan perlakuan token ekonomi atau intervensi.
Langkah-langkah yang dapat diambil dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan hasil pengamatan pada fase Baseline
2. Mencatat hasil diskusi dengan obyek penelitian pada fase intervensi
3. Membuat tabel perhitungan pada fase intervensi
4. Membuat analisis dalam bentuk grafik sehingga dapat diketahui dengan jelas setiap perubahan tingkah laku subjek dalam setiap fasenya secara keseluruhan.
Sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa dalam penelitian ini ada dua tahapan pengukuran yaitu fase baseline dan fase intervensi untuk lebih memperjelas gambaran mengenai hasil penelitian dapat dilihat sebagai berikut:

4.1.   Base Line

Baseline adalah kondisi anak sebelum mendapat perlakuan token ekonomi, berdasarkan pengamatan pada fase baseline dapat dideskripsikan dari hasil pengamatan selama 5 (lima) hari penelitian dengan hasil sebagai berikut:
1.          Pengamatan hari ke1 anak masih tidur bersama eyang nya
2.          Pengamatan hari ke 2 anak masih juga tidur bersama eyangnya
3.          Pengamatan hari ke 3 walaupun nenek obyek penelitian sudah meminta anak untuk tidur sendiri tetapi anak masih saja tidak mau untuk tidur sendiri
4.          Pengamatan hari ke 4 masih sama dengan hari-hari sebelumnya
5.          Pengamatan hari ke 5 juga masih sama si anak belum juga mau tidur sendiri

Pada kondisi baseline yang dilaksakan selama 5 kali pengamatan dan data yang diperoleh dari lapangan untuk dijadikan data baseline-1 ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1.
Pengamatan Hasil Baseline-1
Nama anak
Target behavior
Kondisi
Tanggal baseline-1 
Durasi waktu
Pengamat
: Radit Atha Ramadhan
: Membuat obyek Penelitian tidur sendiri
: Melaksanakan Pembelajaran/ Intervensi
: 20-24 Juni 2012
: 10 menit/pengamatan
: Vitria Handayani


Sesi/ Tanggal
Waktu
Durasi


Mulai
Akhir
(Menit)


1/ 20 Juni 2012
20.10.00
20.20.00
10’


2/ 21 Juni 2012
19.30.00
19.45.00
15’


3/ 22 Juni 2012
20.30.00
20.40.00
10’


4/ 23 juni 2012
20.15.00
20.35.00
20’


5/ 24 Juni 2012
21.00.00
21.30.00
30’















4.2.   Fase Intervensi

Data hasil intervensi ini diperoleh ketika melakukan intervensi dengan melaksanakan
teknik token ekonomi pada anak obyek penelitian dalam upaya untuk dapat tidur sendiri, intervesi-1 ini dilaksanakan selama delapan (5) kali pertemuan. Data dan analisis hasil Intervensi-1 untuk meningkatkan semangat anak untuk tidur sendiri adalah sebagai berikut:





Tabel 4.2.
Pengamatan Hasil Intervensi-1
Nama anak
Target behavior
Kondisi
Tanggal intervensi-1 
Durasi waktu
Pengamat
: Radit Atha Ramadhan
: Membuat obyek Penelitian tidur sendiri
: Melaksanakan Pembelajaran/ Intervensi
: 25-29 Juni 2012
: 30 menit/pengamatan
: Vitria Handayani


Sesi/ Tanggal
Waktu
Durasi


Mulai
Akhir
(Menit)


1/ 25 Juni 2012
20.00.00
20.30.00
30’


2/ 26 Juni 2012
20.20.00
20.45.00
25’


3/ 27 Juni 2012
20.30.00
21.10.00
40’


4/ 28 juni 2012
20.15.00
20.45.00
30’


5/ 29 Juni 2012
20.25.00
20.45.00
20’















Penjelasan Hasil intervensi terhadap obyek penelitian selama 5 (lima) kali pertemuan dengan durasi per pertemuan selama 30 menit adalah sebagai berikut:

1.        Pada hari ke 1 anak dijelas kan agar mau tidur sendiri, seperti yang ada pada rekaman video. Dengan dilakukan diskusi dengan obyek penelitian selama kurun waktu 30 menit. Obyek penelitian masih belum bisa lansung untuk tidur sendiri.
2.        Hari ke 2 anak mulai tertarik dengan kesepakatan yang telah penulis berikan, ternyata anak tersebut sudah mau berani untuk tidur sendiri, walaupun pada awalnya sebelum anak tertidur, anak masih minta ditemani tetapi sesudah anak tertidur penulis tidak menemani lagi dan paginya penulis memberikan tanda bintang tersebut, dan anak sangat senang sekali.
3.        Hari ke 3 masih sama dengan hari kedua sebelum tidur anak masih di temani dahulu sampai anak tertidur
4.        Hari ke 4 anak sudah mulai berani untuk masuk kamar sendiri walaupun anak meminta penulis untuk masih berada di luar apabila anak mau tidur di kamarnya sendiri
5.        Hari ke 5 juga masih sama dengan hari ke 4, tetapi penulis senang anak sedikit demi sedikit sudah mau untuk tidur sendiri, walaupun penulis masih harus menunggu di luar hingga anak tertidur.

4.3.   Fase Pasca treatment

Fase Pasca treatment adalah kondisi setelah intervensi-1 atau bisa juga disebut evaluasi dengan tidak memberikan penanganan teknik token ekonomi. Setelah intervensi-1 dan dilakukan fase treatment selama 2 kali pengamatan dengan durasi setiap pengamatan adalah 10 menit dan diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut:
Tabel 4.3.
Pengamatan Hasil Pasca Treatment
Nama anak
Target behavior
Kondisi
Tanggal intervensi-1 
Durasi waktu
Pengamat
: Radit Atha Ramadhan
: Membuat obyek Penelitian tidur sendiri
: Melaksanakan Pembelajaran/ Intervensi
: 30 Juni s.d 1 Juli 2012
: 10 menit/pengamatan
: Vitria Handayani


Sesi/ Tanggal
Waktu
Durasi


Mulai
Akhir
(Menit)


1/ 30 Juni 2012
20.00.00
20.10.00
10’


2/ 1 Juli 2012
20.20.00
20.25.00
5’















Hasil dari pengamatan perubahan tingkah laku yang menjadi target adalah anak sebagai obyek penelitin sudah mau tidur sendiri, sehingga anak sudah biasa tidur sendiri karena umur anak sudah menginjak 5 tahun.  


BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

 

5.1.Simpulan


5.2.Saran



DAFTAR PUSTAKA


Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:P.T. Remaja Rosdakarya.
Sunardi 2010,  Makalah: MODIFIKASI PERILAKU, PLB FIP UPI, Jakarta
Sinaga AM, Hadiati S. 2001. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Winkel WS.1996. Psikologi Pengajaran. Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo



LAMPIRAN


Gambar 1. Durasi Pengamatan Fase Baseline

Gambar 2. Durasi Penelitian Fase Intervensi
Gambar 3. Capaian Prestasi Sesudah Fase Intervensi

No comments:

Post a Comment